Sosok.co.id - Pagi itu, di antara rimbunnya pepohonan di jalan arah Itera–Kota Baru, tiga lelaki duduk berjejer di bawah naungan daun pisang yang lebar. Tak ada riuh bising kota, hanya suara angin, semilir daun, dan sesekali denting khas Burung tekukur yang menggema dari balik pepohonan.
Mereka bukan sekadar bertiga. Ada cerita, persahabatan, dan kesamaan jiwa yang membawa langkah mereka menembus belantara.
Di sisi paling depan, tampak Candrawansah, seorang dosen Ilmu Pemerintahan dari Universitas Muhammadiyah.
Di tengah, Riyo Pratama, jurnalis Tribun Lampung yang akrab dengan dinamika lapangan. Sementara di belakang, Aprohan, Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Lampung, turut larut dalam suasana sunyi penuh makna.
Mereka datang bukan untuk sekadar menangkap Burung, tetapi untuk menikmati jeda. Sebuah ruang rehat dari hiruk-pikuk profesi yang menuntut pikiran tajam dan langkah cepat. Di hutan ini, mereka kembali menjadi manusia biasa yang bersahabat dengan alam.
Salah satu peralatan penting terlihat terpajang di balik pohon—jebakan kayu klasik untuk Burung tekukur, simbol kearifan lokal yang sudah diwariskan turun-temurun. Alat itu bukan semata perangkat, tetapi lambang ketekunan dan seni yang harus dirawat, tidak sekadar digunakan.
“Yang kami cari bukan hanya burungnya, tapi ketenangan dan kebersamaan,” ujar Candrawansah dengan senyum mengembang, Minggu (6/7/2025).
Tak ada rasa canggung atau gengsi. Mikat burung tekukur menjadi ruang di mana latar belakang profesi melebur dalam kebersamaan.
Bagi mereka, duduk beralaskan tanah, bersembunyi di balik pohon pisang, dan menanti suara tekukur, adalah cara lain untuk merawat persahabatan.
Ada filosofi yang mengendap dalam proses menunggu—tentang sabar, tentang tak memaksa, dan tentang tahu kapan waktunya diam.
Di antara sunyi hutan dan suara Burung, mereka menemukan kembali hal-hal kecil yang kerap terlupa: tawa yang tulus, cerita yang jujur, dan hubungan tanpa basa-basi.