Soekarno juga aktif dalam gerakan Non-Blok dan menjalin hubungan dengan berbagai negara di seluruh dunia, terutama negara-negara yang baru merdeka.
Di dalam negeri, ia berusaha mengimplementasikan berbagai kebijakan ekonomi dan pembangunan yang ambisius, termasuk proyek-proyek infrastruktur besar.
Krisis dan Penurunan Kekuasaan
Pada akhir tahun 1960-an, Indonesia menghadapi berbagai krisis, termasuk krisis ekonomi, Politik, dan sosial. Ketidakstabilan ini menyebabkan ketegangan antara berbagai kelompok politik di Indonesia.
Akibatnya, pada tahun 1965, terjadi peristiwa G30S/PKI yang menyebabkan ketegangan dan kekacauan Politik yang mengarah pada pergeseran kekuasaan.
Soekarno mengalami penurunan kekuasaan dan pada 12 Maret 1966, ia menyerahkan sebagian kekuasaan kepada Jenderal Soeharto melalui Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar).
Pada akhirnya, pada tahun 1967, Soeharto secara resmi mengambil alih kepemimpinan sebagai Presiden Republik Indonesia, sementara Soekarno dikurangi kekuasaannya dan kemudian berada di bawah pengawasan selama sisa hidupnya.
Kehidupan Pribadi dan Warisan
Soekarno dikenal memiliki banyak istri, dan dari pernikahan-pernikahannya ia memiliki sejumlah anak. Salah satu anaknya, Megawati Soekarnoputri, kemudian juga menjadi Presiden Indonesia pada periode 2001-2004.
Soekarno wafat pada 21 Juni 1970 di Jakarta. Meski masa kepemimpinannya penuh dengan tantangan, Soekarno tetap dikenang sebagai Bapak Proklamator dan salah satu pendiri bangsa Indonesia.
Pemikiran, orasi, dan kontribusinya terhadap kemerdekaan dan pembangunan awal Indonesia menjadikannya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah bangsa.
Penutup
Soekarno adalah simbol perjuangan dan aspirasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Kepemimpinan dan visinya telah memberikan dasar bagi negara Indonesia untuk tumbuh dan berkembang.
Meski kepemimpinan Soekarno tidak lepas dari kontroversi, warisannya tetap menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas Indonesia. ***