SOSOK.CO.ID - Peringatan hari lahir Soekarno setiap 6 Juni turut mengingatkan publik pada kisah asmara sang Proklamator yang kerap menjadi perhatian.
Selain dikenal sebagai tokoh bangsa, Soekarno juga memiliki perjalanan cinta yang melibatkan sejumlah perempuan dalam hidupnya.
Beberapa istri Soekarno di antaranya Siti Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, dan Ratna Sari Dewi.
Namun, ada pula perempuan yang diketahui menolak cinta Soekarno meski mendapat perhatian khusus dari presiden pertama Indonesia tersebut.
Sosok itu adalah Gusti Nurul, bangsawan berdarah biru dari Pura Mangkunegaran, Surakarta.
Gusti Nurul lahir pada 17 September 1921 sebagai putri tunggal Mangkunegoro VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timoer.
BACA JUGA: Profil Tengku Firmansyah, Aktor Senior yang Pilih Banting Setir Jadi Tukang Las di Kanada
Sejak muda, ia dikenal berparas cantik sekaligus memiliki kecerdasan serta kemampuan seni yang menonjol.
Bakat menarinya membawanya tampil di Belanda saat berusia 15 tahun dalam perayaan pernikahan Putri Juliana.
Penampilan tersebut diiringi gamelan dari Pura Mangkunegaran dan disiarkan melalui Solosche Radio Vereeniging.
Di balik kehidupannya sebagai bangsawan, Gusti Nurul dikenal memiliki prinsip yang kuat dalam menentukan pasangan hidup.
Ia tercatat pernah menolak pinangan Soekarno, Sutan Sjahrir, GPH Djatikusumo, hingga Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Penolakan itu disebut berkaitan dengan sikapnya yang menentang praktik poligami.
BACA JUGA: Krisis Daya Tampung Sekolah Negeri, Andika Wibawa SR Dukung Sekolah Siger Untuk Rakyat Kurang Mampu
Gusti Nurul meyakini perempuan berpendidikan tidak seharusnya menyakiti perempuan lain dengan menjadi istri kedua.
Salah satu penolakan yang paling dikenal terjadi ketika Sri Sultan Hamengkubuwono IX mengajukan lamaran saat telah memiliki istri.
Meski dijanjikan kedudukan tinggi, Gusti Nurul tetap mempertahankan prinsip hidup yang diyakininya.
Pada usia 30 tahun, ia akhirnya menikah dengan R.M. Surjo Sularso yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya.
Surjo Sularso merupakan perwira militer lulusan KMA Breda tahun 1939.